Patuh dan Taat Dalam Hal Kebenaran

Ali bin Abi Thalib meriwayatkan, bahwa Rasululloh memerintahkan seseorang dari kaum Anshor untuk memimpin sebuah batalyon, dan berpesan agar pasukan menaati dan mendengarkan perintahnya.

Kemudian mereka melakukan sesuatu yang membuatnya marah. Ia lantas berkata, “Nyalakan api!” Merekapun melakukannya. Ia berkata, Bukankah Rasululloh memerintahkan kalian agar patuh dan taat kepadaku?”.

Mereka menjawab, “Benar.”

“Masuklah ke dalam api itu!” katanya.

Kemudian mereka saling pandang dan berkata, “Justru kami berlari kepada Rasululloh dari api itu.”

Hilanglah kemarahannya dan dimatikannya api itu. Ketika mereka datang kepada Rasululloh, diceritakannya hal ini kepadanya, kemudian beliau bersabda, “Jika mereka memasukinya, niscaya tidak bakal kembali dengan selamat selama-lamanya. Sesungguhnya patuh dan taat adalah dalam hal kebenaran.”( Al Bidayah wan Nihayah, 4/226)

Hal ini Rasululloh memberi batasan taat, yakni dalam hal kebenaran.

Adapun yang wajib ditaati diantaranya adalah khalifah dan perangkatnya dalam daulah islamiyah, kedua orang tua, suami atas istrinya, komandan atas prajuritnya dsb.

Ketika Abu Bakar menerima tampuk kekhalifahan, beliau berkata, “Taatilah aku jika aku taat kepada Allah dalam urusan kalian, Namun jika aku bermaksiat kepada Allah, tiada lagi ketaatan atas kalian.” (Tarikhul Khulafa hal.69)

Disinilah khalifah membatasi ketaatan rakyat terhadap pemimpin mereka. Bukannya taat buta, karena ia hanya terdapat pada apa yang dioerintahkan Allah atau dalam kerangka ma’ruf. Jika telah keluar darinya, tiada lagi taat.

Jika seorang khalifah atau orang nomor satu dalam pemerintahan memerintah rakyat dalam kemaksiatan yang nyata, tidak ada kewajiban taat atas rakyat.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *